Posted by : Unknown
Saturday, 17 October 2015
Tittle : "Please,don't do that!"
Pair : Sai x Ino
Genre : Romance, School Life
------
"Tidak.. Kumohon,jangan!”
Aku membuka kedua mataku. Yang dapat kulihat hanyalah langit-langit kamarku. Lagi-lagi aku bermimpi buruk. Bermimpi mengenai kecelakaan seorang gadis yang kukenal. Aku mengucek kedua mataku, kemudian menyesuaikan pupil mataku dengan cahaya yang dapat ia terima. Aku melihat ke arah jam. Ternyata sudah pukul 07.00. Ah,sial! Aku terlambat.
****
Aku berlari menyusuri lorong sekolah. Berusaha agar dapat sampai di kelas tepat waktu. Ketika sudah mencapai kelas, aku membuka pintu kelas dengan tergesa-gesa. Melihat keadaan yang masih berisik, sudah pasti belum ada guru yang masuk. Aku menghela nafas singkat,kemudian berjalan masuk dan duduk di bangkuku.
“Oh,Sai.. Kau sedikit terlambat..”
Seorang pria berambut kuning berbicara padaku.
“Ah, tadi aku salah melihat jam,Naruto”
Ucapku tersenyum kaku. Pemuda yang bernama Naruto itu hanya membalas ucapanku dengan anggukan cepat. Naruto, dia adalah salah satu teman satu timku dalam klub basket.
"Senyummu terlihat kaku,Sai."
Kali ini, Pemuda bersurai biru tua yang bersuara. Pemuda itu bernama Sasuke, ia juga teman satu timku dalam klub basket.
"Hey-hey, Sasuke.. Kau juga sama sepertinya"
Naruto berbicara sembari menyindir. Sasuke hanya berdecih mendengar ucapan Naruto tersebut. Aku sudah terbiasa dengan pemandangan ribut seperti ini saat di sekolah. Jadi, aku hanya bisa tersenyum melihat mereka.
Tiba-tiba,pintu terbuka lagi. Ketika kami melihat ke arah pintu, Kakashi sensei datang sembari membawa seorang gadis berambut kuning yang diikat ponytail.
"Selamat pagi, semuanya.."
"Selamat pagi,Sensei!"
Pria yang tampak lesu ini merupakan wali kelas kami. Ia juga pembimbing di klub basket. Wajahnya tidak pernah dilihat karena selalu ditutupi oleh kain berwarna hitam, atau mungkin biru tua. Ia melihat ke arah siswi baru itu sembari mempersilahkannya memperkenalkan diri.
"Namaku Yamanaka Ino. Aku harap kita dapat berteman baik disini. Salam kenal"
Gadis itu memperkenalkan dirinya sembari tersenyum. Aku hanya merasa tenang melihat senyumam yang gadis itu berikan. Perasaan apa ini? Mungkin hanya ada sedikit kerusakan di syarafku.
"Yamanaka? Bukankah itu merupakan keluarga kaya?!"
"Wah,gadis itu cantik sekali.."
Kelasku menjadi ribut setelah mengetahui nama gadis itu. Memang benar, keluarga Yamanaka sudah sangat terkenal di negara ini, dikarenakan memiliki perusahaan besar yang tidak tertandingi.
"Silahkan duduk di samping Sai"
Kakashi sensei menunjuk kebangku di sebelahku.
"Un.. Arigatou,sensei"
Gadis itu berjalan ke arahku, kemudian duduk di sebelahku dengan anggunnya. Benar-benar terlihat seperti seorang bangsawan. Gadis itu tersenyum ke arahku. Seolah memberi kode "Salam kenal" . Aku hanya dapat membalas senyumannya dengan kaku.
*****
Sudah seminggu semenjak Gadis itu pindah ke sekolah ini. Dan aku juga sudah sedikit banyak mengenal dirinya. Ia tidak suka makanan yang terlalu manis, karena hal itu dapat menaikkan berat badannya. Namun, ia suka benda-benda yang imut seperti boneka, atau hal imut lainnya.
Hari ini hari Minggu, dan aku berjanji padanya untuk mengajaknya mengelilingi kota ini. Ketika aku sedang mempersiapkan diri, kudengar bunyi klakson mobil dari luar. Aku membuka jendela kamar dan melihat ke bawah. Benar, gadis itu telah datang. Ketika ia melihat kearahku, ia melambaikan tangannya sembari tersenyum.
Aku berlari menuruni tangga dengan cepat. Kemudian membuka pintu rumah dan mempersilahkan gadis itu untuk singgah sebentar.
"Anda hanya tinggal sendiri, Sai?"
Gadis itu bertanya dengan sopan. Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan.
"Tidak perlu terlalu formal denganku.."
Gadis itu tertawa kecil mendengar ucapanku barusan. Hal itu membuatku sedikit kebingungan.
"Kau orang yang menyenangkan ya, Sai-kun.."
Aku membelalakkan mataku ketika mendengar ucapan gadis itu. Dan aku merasa aneh di dadaku. Jantungku serasa berdetak tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Tunggu! Lagi-lagi seperti ini. Aku belum pernah merasakan hal yang aneh seperti ini.
"Um,kenapa kau diam saja,Sai-kun? Apa ucapanku salah?"
Gadis itu melihat kearahku dengan tatapan heran. Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"B-bukan apa-apa,ayo..silahkan minum tehnya.."
******
Sudah dua jam kami duduk di taman ini. Aku merasa sedikit bosan dan ingin berganti latar. Aku benci taman ini. Tempat ini mengingatkanku pada gadis yang sempat masuk ke rumah sakit karena diriku. Namun, melihat gadis ini sangat senang duduk disini, aku mengurung niatku tersebut.
"Kau tampak menyukai tempat ini.."
Ucapku sedikit memecahkan keheningan.
"Yah, Bisa dibilang.."
Gadis itu berbicara lembut. Sungguh,sebenarnya aku sangat muak dengan keadaan yang aneh ini. Melihatnya yang sangat menyukai tempat yang kurang kusukai ini, membuatku naik darah. Aku tidak mengerti, apa yang telah membuatku seperti ini.
"Ayo,kita pergi!"
Aku berdiri dari tempatku. Merenggangkan otot otoku yang terasa kaku.
"Aku masih mau disini.."
Aku menoleh ke arah gadis itu. Menatapnya dengan tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Sai-kun?"
"JANGAN MEMANGGILKU DENGAN NAMA ITU!!"
Aku berteriak kencang. Suaraku dapat terdengar ke seluruh taman ini. Semua orang yang berada di taman ini memandangku dengan aneh. Namun, setelah beberapa menit, semuanya kembali seperti semula.
"Ada apa denganmu, Sai-kun?"
Gadis itu menatapku dengan pandangan bersalah. Aku hanya menundukkan kepalaku dan berdiam diri. Tanpa mengatakan apapun.
"Sai-kun??"
"Sudah..hentikan.. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!"
Gadis itu membelalakkan matanya. Menatapku dengan kecewa. Aku tau, tindakanku yang tiba-tiba seperti ini,pasti sangat bodoh. Gadis itu meraih tasnya, dan berlari meninggalkanku sembari menangis.
Ketika gadis itu hendak menyebrang, sebuah truk menabraknya. Aku yang tak dapat melakukan apa-apa, hanya berlari ke arah tubuhnya yang tergeletak di tanah dengan darah yang berceceran dimana-mana. Tidak, kejadian ini terulang lagi. Aku memeluk tubuhnya dengan erat sembari menangis. Salahku.. Ini salahku..
*****
Aku berjalan bolak-balik di depan pintu UGD rumah sakit. Menunggu kabar dari dokter yang sedang menangani gadis itu. Mendengar decitan suara pintu, aku langsung menoleh ke arah pintu dan bertatapan dengan dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya?"
Ucapku khawatir.
"Dia baik-baik saja.. Hanya ada sedikit luka di bagian kepalanya"
Aku merasa sedikit lega. Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki. Saat aku menoleh kebelakang, aku melihat dua orang yang tak asing bagiku. Kedua orang itu merupakan orang tua gadis yang pernah kecelakaan akibat ulahku. Aku melebarkan kedua mataku. Jangan bilang,kalau Ino adalah..Gadis yang kutemui 5 tahun lalu?
"K-kau lagi!"
Ayah Ino menatapku dengan jengkel. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku.
"Kenapa,kenapa kau berbuat seperti itu pada Ino?!"
Ibu Ino berteriak kearahku sembari menangis.
"Pergi! Dan jangan pernah temui Ino lagi!"
Ayah Ino mengusirku dari rumah sakit. Aku hanya bisa mengikuti kemauannya dan berjalan keluar dari rumah sakit secepat mungkin. Kebodohanku terulang untuk yang kedua kalinya.
****
Aku melempar bola basket ke arah ring, namun, lagi-lagi bola basket meleset keluar.
"Sai, ada apa denganmu??"
Naruto menatapku heran. Sasuke hanya dapat mengangguk mendengar ucapan Naruto.
"Aku..tidak apa.."
"Tidak apa? Jelas-jelas kau terlihat aneh dari biasanya.."
Aku terduduk di lapangan basket dengan lemas. Mengingat kejadian kemarin membuatku tersiksa. Lagi lagi aku melukai orang yang sama dengan perilaku kasar. Bagaimana bisa aku memaafkan diriku sendiri?
"Apa..Ini ada hubungannya dengan Ino?"
Sasuke bertanya dengan hati-hati. Aku hanya dapat mengangguk pelan. Hal itu membuat Sasuke menghela nafas panjang.
"Tadi pagi,Ino menitipkan surat kepadaku. Ia menyuruhku untuk memberinya padamu.."
Sasuke mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Aku mengambil kertas tersebut dan membacanya.
*****
Aku berlari ke bandara dengan cepat. Kumohon, tunggu aku sebentar saja. Aku harus menyampaikan hal ini.
Aku melihat sekeliling. Keadaannya yang sangat ramai ini membuatku sulit untuk menemukan Ino. Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tangan menyentuh pundakku dengan lembut. Dengan cepat, aku menoleh kebelakang. Kulihat seorang yang sedang kucari berdiri disana.
"I...no?"
"Ya,ada apa??"
Gadis itu tersenyum ke arahku. Aku melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
"M-maafkan aku..akuu.."
Gadis itu memelukku secara tiba-tiba. Hal itu membuatku terkejut. Aku merasakan kehangatan yang ia berikan. Lagi-lagi aku merasakan hal yang aneh. Perasaanku,apa itu benar?
"Kau sudah baca suratku,kan??"
Ino berbicara sembari memelukku. Kulihat kedua orang tua Ino menatap kearahku sembari tersenyum. Aku hanya dapat membalas senyuman tersebut dengan sopan.
Ino melepaskan pelukannya. Ia menarik kedua orang tuanya menghampiriku.
"Aku sudah menjelaskan yang sebenarnya kepada kedua orang tuaku. Dan mereka minta maaf karena telah mengusirmu waktu itu.."
Ino tersenyum hangat ke arahku. Aku hanya bisa mengangguk pelan.
"Nee, Sai-kun.... Apa boleh aku memanggilmu dengan sebutan itu??"
"Hm.. Tentu saja boleh.."
"Kalau begitu,aku ingin dengar sesuatu yang seharusnya kau sebutkan!"
Aku menghela nafas panjang.
"Baiklah,Ino... Kumohon,tinggallah di kota ini.."
"Baik.."
----- END ------
{ 1 comments... read them below or add one }

This comment has been removed by the author.
ReplyDelete